Kisah terbang 10 hari Amsterdam-Jakarta di era kolonial

April 18th, 2013, posted in Lain-lain

b2f579776506dfe2950b259afc685ae8_kisah-terbang-10-hari-amsterdam-jakarta-di-era-kolonial

Dulu bangsa Eropa banyak memiliki wilayah jajahan di belahan dunia. Salah satunya Belanda yang menjajah Indonesia tiga abad lamanya.

Sebelum ada pesawat terbang, para bule Belanda hilir mudik ke Dutch East Indies (Indonesia) dengan menumpangi kapal laut. Mereka harus sabar menempuh waktu enam hingga delapan pekan lamanya, paling cepat satu bulan, untuk sampai di Indonesia.

Namun, kemajuan teknologi yang dicapai manusia telah memudahkan mereka berlalu lalang dari Belanda ke Indonesia. Saat itu pesawat terbang telah berhasil diciptakan dan mampu memperpendek waktu perjalanan ke lokasi tertentu.

Mengungkap bekas ‘gedung setan’ di Jakarta

April 18th, 2013, posted in Lain-lain

583661ed35d21078bbc92b329e680af8_mengungkap-bekas-gedung-setan-di-jakarta-freemason-2

Sebagai kota tua, Jakarta memiliki banyak gedung-gedung kuno. Namun

Loge de Vriendschap Surabaya, tempat ritual menir Belanda

April 18th, 2013, posted in Belanda

7533aec8792047ed2f08410294373c1e_loge-de-vriendschap-surabaya-tempat-ritual-menir-menir-belanda

Gedung Loge de Vriendschap di Surabaya, Jawa Timur adalah salah satu cagar budaya. Sayang, tak banyak orang tahu sejarah bangunan yang kini menjadi kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) itu. Oleh menir-menir Belanda, gedung ini dijadikan sebagai tempat memanggil roh orang mati.

Ada banyak bangunan sejarah di Surabaya, yang dikenal masyarakat, hanya sekadar peninggalan Belanda. Itu pun dikenali dari bentuk bangunan dan prasasti yang ada di bangunan tersebut. Sebab, Surabaya kini lebih banyak dihuni masyarakat urban. Bahkan, bangunan-bangunan sejarah itu sudah tak terlihat karena dihimpit bangunan pertokoan dan perkantoran berdiri berderet.

Salah satu bagunan sejarah yang ditetapkan pemerintah sebagai cagar budaya adalah Gedung Loge de Vriendschap. Gedung ini berdiri di Jalan Tunjungan 80, tepatnya berada berseberangan dengan Hotel Majapahit yang juga memiliki nilai sejarah perjuangan Arek-arek Suroboyo di zaman penjajahan.

Mbah Jiwo, sinden idola Bung Karno kini terbaring sebatang kara

April 18th, 2013, posted in Tentang Soekarno

df65515216833e90dd2baf080ae56f5a_mbah-jiwo-sinden-idola-bung-karno-kini-terbaring-sebatang-kara

Nama Mbah Jiwo atau Nyi Sudjirah (85) dimasa mudanya sangat terkenal di lingkungan Kraton Surakarta dan Kota Solo Raya. Mantan Abdi Dalem Swarawati Kraton Surakarta Hadiningrat tersebut dulunya mempunyai tugas mulia sebagai duta seni kraton. Sudjirah sering menjadi wanita idola kala itu.

Apalagi jika sedang mendendangkan alunan lagu-lagu jawa. Bahkan mantan Presiden Sukarno, Raja Keraton Surakarta Pakubuwono XII pun mengagumi keindahan suaranya. Sudjirah bahkan tak jarang, menjadi utusan Kraton Surakarta, untuk pentas ke luar negeri.

Kejayaan itu lambat laun menghilang saat Nyi Sudjirah berada pada usia renta. Dia kini tergolek sakit tak berdaya. Bahkan, tidak ada keluarga yang merawat di rumah yang terbuat dari bambu (gedheg) di kampung Wirengan RT 2 RW 4 Baluwarti, Pasar Kliwon, atau masih di dalam lingkungan kraton yang merupakan pecahan dinasti Mataram tersebut.

Tan Malaka, ditawan sebelum meninggal di tangan bangsa sendiri

April 18th, 2013, posted in Tan Malaka

de3eb481d3f3b5b4ec8f4a37bc617cb3_tan-malaka-ditawan-sebelum-tewas-di-tangan-bangsanya-sendiri-kisah-tan-malaka-1

Rasa penasaran itu masih saja berkecamuk. Rasa yang sama mungkin juga dimiliki sejarawan Belanda Harry A Poeze yang menyebutkan Tan Malaka dibunuh di Desa Selopanggung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri pada 21 Februari 1949 oleh Brigade Sikatan atas perintah Letnan Dua Sukotjo.

Rasa penasaran itu berujung ketika harus melangkah menuju wilayah Selopanggung yang berada di kaki Gunung Wilis tempat di mana Tan Melaka harus meregang nyawa. Keputusasaan sempat berkecamuk ketika gagal mendapatkan informasi seperti apa yang disampaikan Harry A Poeze, yang yang juga Direktur KITLV Press (Institut Kerajaan Belanda Untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara) tentang Tan Malaka di Desa Selopanggung.

Namun berkat kesabaran akhirnya merdeka.com bertemu dengan Syamsuri (45) mantan Kepala Desa Selopanggung (1990-1998).